Banner FokusBabel Gubernur
previous arrow
next arrow

Mahasiswa Mulai Gerah: Inilah Fakta yang Tak Pernah Diungkap!

Oleh: Glen Candra (Mahasiswa Sastra dan Bahasa, Sastra Inggris Angkatan 2025 UBB)

OPINI,www.fokusbabel.com— Bingung, ambigu, dan takut merupakan impresi pertama saya pada saat memasuki dunia perkuliahan. Nama saya Glen Candra, tapi biasa dipanggil Glen.

banner 325x300

Saya merupakan mahasiswa semester 1 yang baru saja memasuki dunia perkuliahan. Pada saat itu, saya mengira bahwa proses Pemilwa 2025 UBB hanyalah ritual kampus semata, sesuatu yang seharusnya bersih, jujur, adil. Idealnya mencerminkan semangat demokrasi kampus.

Namun dari dua artikel yang saya baca mengenai dugaan manuver politik oleh dekan fakultas, penyelenggara pemilwa, dan pengawas pemilu mahasiswa membuat saya ragu.

Apakah Pemilwa benar-benar mencerminkan suara mahasiswa, atau malah dimanipulasi demi kepentingan tertentu.

Perasaan saya sebagai mahasiswa baru berubah cepat ketika kabar tentang manuver politik muncul. Jika benar ada intervensi dari pihak akademik atau penyelenggara, maka kredibilitas suara mahasiswa diragukan sejak awal.

Praktik seperti ini jika tidak dicegah  bisa merusak integritas proses pemilwa, karena pemilihan seharusnya menjadi wadah aspirasi bebas tanpa tekanan atau pengaruh dari otoritas kampus. Saya khawatir suara saya dan teman-teman, yang memasuki kampus dengan harapan partisipasi dan representasi, malah tidak dihargai secara adil.

Lebih jauh, situasi ini mengajarkan saya bahwa sebagai mahasiswa kita tidak boleh pasif. Meski baru semester 1, saya merasa penting untuk terus memantau dan menuntut transparansi dalam setiap tahap pemilwa  mulai dari penyusunan calon, kampanye, hingga perhitungan suara.

Jika penyelenggara pemilu tidak independen, maka proses itu bisa berubah menjadi alat politik kampus yang menyimpang dari prinsip demokrasi. Karena itulah, mahasiswa terutama yang baru seperti saya  harus aktif mencari informasi, menuntut akuntabilitas, dan bersuara jika ada ketidakadilan.

Sebagai mahasiswa baru yang semula hanya berharap belajar dan berkembang, pengalaman membaca kasus ini memberi pelajaran keras, demokrasi kampus tidak bisa dianggap otomatis bersih dan adil. Dibutuhkan partisipasi aktif kita sebagai pemilih  bukan hanya datang ke kotak suara, tetapi juga mengawal prosesnya dengan kritis.

Kalau kita diam saja ketika ada kecurangan, artinya kita ikut membiarkan sistem rusak. Tak peduli semester berapa kita, setiap suara mahasiswa punya nilai  dan harus dihargai.

Semoga ke depan Pemilwa di Universitas Bangka Belitung bisa benar-benar menjadi sarana demokrasi kampus yang bersih, adil, dan transparan.

Dan sebagai mahasiswa baru, saya berharap saya  dan seluruh mahasiswa bisa ikut menjaga nilai tersebut, sehingga suara kami tidak sekadar formalitas, tetapi betul-betul suara yang diperhitungkan.(**)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *