Banner FokusBabel Gubernur
previous arrow
next arrow

Perang Ketupat Tempilang Digelar, Bupati Bangka Barat Harap Jadi Event Nasional

BANGKA BARAT,www.fokusbabel.com— Masyarakat Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menggelar tradisi adat Perang Ketupat dan Ruah, Minggu (8/2/2026) pagi.

Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap bulan Ruah atau Sya’ban sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

banner 325x300

Pantauan di lokasi, sejak pagi hari ratusan warga dan pengunjung memadati kawasan Tempilang. Bahkan, sebagian warga mengaku sudah menginap sejak malam sebelumnya demi mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.

Perang Ketupat merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Tempilang yang telah berlangsung sejak awal 1800-an. Ritual ini dilakukan dengan prosesi saling melempar ketupat antarwarga.

Meski tampak seperti perang, tradisi ini sarat makna sebagai simbol rasa syukur, tolak bala, serta upaya mempererat silaturahmi.

Usai prosesi lempar ketupat, acara ditutup dengan saling bersalaman dan berpelukan sebagai lambang kebersamaan tanpa menyimpan rasa amarah.

Secara historis, Perang Ketupat pertama kali digelar di Benteng Kota Tempilang pada awal 1800-an.

Tradisi ini dilakukan untuk mengenang para leluhur yang gugur saat mempertahankan benteng dari serangan lanun pada 1793.

Seiring waktu, ritual tersebut dipadukan dengan doa arwah dan dilaksanakan rutin menjelang Ramadhan.

Rangkaian acara diawali dengan Ngancak Penimbong pada malam Nisfu Sya’ban sebagai simbol permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ritual kemudian ditutup dengan Taber Kampung yang dipercaya sebagai bentuk perlindungan dari gangguan makhluk halus.

Selama pelaksanaan tradisi, masyarakat juga menjalankan sejumlah pantangan selama tiga hari, seperti tidak melaut, tidak masuk hutan, serta tidak menjemur pakaian di pagar depan rumah.

Pantangan tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengandung pesan pelestarian lingkungan dan keteraturan permukiman.

Dalam rangkaian ritual turut ditampilkan Tari Kedidi yang melambangkan fokus dan ketelitian, serta Tari Serimbang yang bermakna keseimbangan dan harmoni alam.

Puncak Perang Ketupat dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dan dihadiri Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati Bangka Barat, Kapolres Bangka Barat, Dandim 0431/Bangka Barat, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung, serta unsur Forkopimda dan Pemprov Babel.

Bupati Bangka Barat Markus mengatakan, Perang Ketupat merupakan kekayaan budaya daerah yang berpotensi besar dikenal secara nasional.

“Ini salah satu event yang kita harapkan bisa semakin dikenal di kancah nasional. Tradisi ini menjadi daya tarik Bangka Barat. Di Bangka Barat ini kan banyak adat istiadat, dan pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan budaya,” ungkap Markus disela-sela acara Perang Ketupat.

Ia berharap ke depan pelaksanaan Perang Ketupat dapat digelar lebih meriah dan mampu menarik lebih banyak pengunjung, meski sebagian masyarakat masih menjalankan tradisi ruahan.

“Harapan kami ke depannya bisa lebih meriah lagi,” pungkasnya,” tutupnya.(**)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *