BANGKA BARAT,www.fokusbabel.com—
Warga Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, kembali menggelar tradisi adat Perang Ketupat yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak awal 1800-an.
Ritual tahunan ini menjadi penanda kesiapan masyarakat Tempilang, Kabupaten Bangka Barat menyambut bulan suci Ramadhan.
Perang Ketupat hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Tempilang.
Selain menjadi ajang kebersamaan, tradisi ini juga sarat dengan nilai sejarah, spiritual, dan kearifan lokal.
Penerus Warisan Adat Tempilang, Keman, mengatakan Perang Ketupat tidak sekadar pertunjukan adat, melainkan mengandung pesan moral yang diwariskan para leluhur.
“Perang ketupat ini pertama mengingat sejarah leluhur, dan kedua kajian dari ketupat itu sendiri, mulai dari etika, perilaku, nilai agamis, hingga tradisi. Ini harus kita tanamkan ke anak cucu supaya mereka punya adab dan etika,” ujar Keman pada Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menjelaskan, para pesilat yang terlibat dalam Perang Ketupat tidak menjalani ritual khusus sebelum bertanding.
Ditambahkanya, para pendekar tetap menggunakan kaidah silat sebagaimana mestinya tanpa unsur kekerasan berlebihan.
Seluruh rangkaian kegiatan, lanjut Keman, ditutup dengan doa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan.
“Pada akhirnya semua sudah kita doakan. Allah Maha Menyembuhkan,” imbuhnya.
Keman berharap tradisi Perang Ketupat terus dilestarikan dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Ia juga mendorong penambahan unsur seni dan tarian tradisional agar pelaksanaan tradisi tahunan ini semakin semarak.
Selain Perang Ketupat, rangkaian adat juga diisi dengan prosesi pelepasan perahu ke laut. Ritual tersebut diyakini berkaitan erat dengan sejarah masyarakat Bangka Barat yang dikenal sebagai perantau pada masa lalu..
“Dulu warga Bangka Barat banyak yang datang karena merantau, terdampar, atau dibawa oleh Belanda. Dalam kepercayaan lama, para perantau sering membawa hal-hal gaib. Jika ada yang mengganggu masyarakat, baik di laut maupun di darat, maka secara simbolis kami lepaskan melalui perahu ke laut, menuju Jawa, Palembang, atau Padang misalnya,” bebernya.
Tradisi Perang Ketupat menjadi pengingat kuat akan akar sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Tempilang yang terus dijaga dari generasi ke generasi.(**)









